Diposting oleh The Special One






Piala Dunia
PELATIH,,



enggan bersalaman



Masih ingat sikap kapten tim itali, fabio canavaro (36), sesaat setelah itali di babat slowakia 2-3 pada babak penyisihan grup F, kamis (24/6), ia dengan muka tegak mendatangi pemain lawan yang sedang larut dalam kegembiraan. Pemain terbaik dunia 2006 itu menjabat tangan mereka, sementara rekan setimnya tertunduk, bahkan menangis menyesali kekalahan.
Begitulah semestinya sikap seorang kapten. Canavaro, the real captain, mampu mewakili teman-temannya, memberi selamat kepada sang pemenang. Ironisnya, sikap kebalikan justru ditunjukkan sang pelatih, Marcello Lippi. Begitu laga usai, ia langsung membalikkan badan dan masuk ke ruang ganti, terkesan menghindari ajakan berjabat tangan pelatih slowakia.
Dunia menyaksikan drama tentang pelatih bernyali ciut di hajatan akabar sekelas piala dunia 2010. Drama sebelumnya lebih memeranjatkan hati. Pelatih perancis Raymond Domenech menolak berjabat tangan oleh pelatih Afrika Selatan Carlos Alberto Parreira setelah timnya di lumat afsel 1-2.
Masih ingat ketika Perreira mendekati domenech seusai peluit panjang berbunyi. Ia mengglurkan tanggan. Namun, apa yang terjadi? Domenech memunggungi Parreira dang menggibaskan jemari tanggannya dengan marah. Parreira meraih ujung jaket domenech dan mencoba mengajak berbicara.
Usut punya usut, Domenech marah kepada pelatih afrika selatan asal berazil itu karena pernyataannya bahwa perancis tidak layak berlaga di Piala Dunia. Parreira pada desember 2009 pernah mengatakan, perancis pasti gagal dalam kualifikasi kalau tidak terbantu handboll Thierry Henry yang memalukan saat melawan irlandia pada november lalu.
Namun, Parreira menyanggah. “ia tidak lagi menjadi pelatih perancis, dan saya ingin menjabat tanggannya. Ia menuduh telah menyinggung perasaan tim perancis. Atas nama hidup saya, sungguh saya tidak percaya apa ini,” sahut parreira seperti dikutip AP.
Apa pun alasan Pomenech, ia menodai citranya sendiri. Pada akhir masa tugasnya memegang timnas Perancis, Domenech justru meninggalkan jejakkelam yang -mau tidak mau-
Bakal di catat dalam sejarah.
Jabat tangan pada akhir laga adalah satu cara yang mentradisi, sama tuanya dengan tradisi mengangkat atau mencium piala (medali). Jabat tangan menjadi simbol pengakuan, penghormatan, dan keikhlasan.
Jabat tangan adalah simbol purba yang telah di kenal di yunani kuno sejak abad ke lima sebelum masehi. Dua tangan bersentuhan secara sepontan. Jemari bertautan.
Umumnya, jabat tangan adalah satu cara menyapa, mengucap selamat, terimakasih, atau rasa syukur. Di jagat olahraga, jabat tangan bisa bermakna persaudaraan. Tujuannya untuk menyatakan kepercayaan, keseimbngan, dan persamaan.
Sayang, justru simbol leluhur itu di abaikan pelatih kelas dunia seperti Domenech dan Lippi. Betul bahwa lippi lalu dengan legawa bertanggung jawab atas kekalahan itali dari slowakia dan terlebih lagi karena tidak bisa melaju ke babak selanjutnya.
Lippi berkata “saya bertanggung jawab atas semuanya. Jika satu tim datang dengan terror di kaki, kepala, dan hatinya, hingga tidak dapat mengekspreksikan diri, itu berarti pelatihnya belum berhasil.”
Dalam pandangan Lippi, para pemainnya tidak hanya bermasalah pada fisik dan taktik, tetapi juga piskis. Wah, lippi tidak menyadari, ia pun jangan-jangan mengalami ganguan piskis. Ia tidak tabah dalam mengalami kekalahan hinga lupa berjabat tangan.
Diamnil dari : KOMPAS, senin, 28 JUNI 2010

This entry was posted on 01.13 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar